MediaRepublik.Id- Nasib pilu dialami Esly Panda, warga Desa Ratatotok Selatan, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara. Setelah menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh bos tambang ilegal Inal Supit, Esly justru kembali terpukul oleh beredarnya fitnah dan informasi yang dinilai tidak benar.
Belum pulih dari luka-luka yang dialaminya, Esly bersama keluarga kini harus menghadapi tudingan miring dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Salah satu isu yang beredar bahkan menyebutkan bahwa korban melakukan pengerusakan di rumah pelaku.
Suami korban, Fijay Palilingan, dengan tegas membantah tudingan tersebut. Ia menyayangkan adanya pemberitaan yang dinilai tidak sesuai fakta.
“Kami sangat menyayangkan adanya pemberitaan yang menyebut istri saya melakukan pengerusakan di rumah pelaku. Padahal keluarga pelaku sendiri saat datang ke kami mengakui tidak ada pengerusakan. Bahkan mereka menyebut barang di dalam rumah itu dirusak oleh anak pelaku sendiri,” ungkap Fijay, Minggu (29/3/2026).
Tak hanya itu, pihak keluarga juga menyesalkan adanya pihak-pihak yang menggiring opini seolah-olah kondisi korban baik-baik saja, padahal faktanya Esly masih menjalani perawatan intensif.
Diketahui, korban telah dirawat selama sepekan di RS Buyat sejak kejadian dan kini dirujuk ke RSUP Prof. Kandou Manado untuk penanganan lebih lanjut.
“Ada oknum yang entah dengan kepentingan apa menggiring opini menyebut istri saya baik-baik saja. Padahal sejak kejadian dia terus dirawat, bahkan sekarang dirujuk ke RS Kandou. Ini sangat kami sesalkan,” tambahnya.
Merasa dirugikan, keluarga korban memastikan akan menempuh jalur hukum terhadap pihak-pihak yang menyebarkan informasi tidak benar tersebut.
“Kami akan membawa masalah ini ke ranah hukum. Kami sudah jadi korban, malah difitnah. Ini sangat merugikan kami,” tegas Fijay.
Peristiwa penganiayaan ini sendiri terjadi pada Minggu dini hari, 22 Maret 2026, sekitar pukul 00.30 WITA. Saat itu, Esly datang ke rumah milik terduga pelaku dengan maksud menjemput adiknya yang dalam kondisi mabuk.
Namun setibanya di lokasi, korban justru terlibat adu mulut dengan anak pelaku berinisial V, yang juga diduga berada di bawah pengaruh minuman keras. Situasi kemudian memanas saat V memecahkan botol dan mengejar korban hingga ke jalan.
“Awalnya saya hanya ingin menjemput adik saya yang sudah mabuk. Tapi tiba-tiba anaknya Inal keluar dan marah-marah. Karena dalam kondisi mabuk, dia pecahkan botol dan mengejar saya,” tutur Esly.
Tak lama berselang, kakak perempuan dari pelaku yang bernama Dafne datang dan ikut melakukan pemukulan terhadap korban.
“Kakaknya Inal datang dan langsung memukul saya. Saat itu saya sempat melakukan perlawanan,” lanjutnya.
Situasi semakin memburuk ketika Inal Supit turut datang ke lokasi dan diduga ikut melakukan penganiayaan terhadap korban.
“Saya kaget, Inal tiba-tiba datang dan langsung memukul saya,” pungkas Esly.
Kasus ini kini menjadi sorotan, terutama terkait dugaan kekerasan serta penyebaran informasi yang tidak benar yang dinilai semakin memperburuk kondisi korban dan keluarganya


https://mediarepublik.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250305-WA0002-1.jpg






